Saluran Kasih


.
Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. —1 Yohanes 3:18


Ada banyak mahasiswa yang mengikuti perjalanan misi di musim panas. Namun, jarang ada yang kembali dengan rencana untuk menyelamatkan seorang bayi. Mallery Thurlow, seorang mahasiswi di Cornerstone University di Grand Rapids, pergi ke Haiti untuk membantu pendistribusian makanan. Satu hari seorang ibu muncul di tempat pendistribusian makanan itu dengan menggendong seorang bayi yang sakit parah. Ibu itu tidak memiliki pilihan lain. Bayi itu harus dioperasi, tetapi tidak ada yang mau melakukannya. Jika tidak ditolong, bayi itu akan meninggal. Mallery kemudian tidak hanya memeluk bayi Rose itu, ia juga mengingatnya dalam hati.


Sekembalinya ke AS, Mallery mencari dokter mana yang dapat mengoperasi bayi Rose. Sebagian besar dokter mengatakan harapannya kecil. Akhirnya, Rose memperoleh visa untuk meninggalkan Haiti dan Mallery kembali ke Haiti untuk menjemputnya. Rumah Sakit Anak Detroit mau menanggung biaya operasi sebesar $100,000 AS dan operasi itu berhasil. Hidup bayi kecil itu pun terselamatkan.


Kita mungkin tidak akan memiliki dampak sedramatis itu atas hidup orang lain. Namun, tertantang oleh kepedulian mahasiswi ini, kita dapat menemukan cara-cara untuk memberikan pertolongan. Mahasiswi itu tidak membiarkan situasi, usia mudanya, atau ketidaknyamanan menghentikan dirinya untuk menyelamatkan hidup Rose.


Seperti halnya Mallery, kita dipanggil untuk mengasihi "dalam perbuatan dan dalam kebenaran" (1 Yoh. 3:18). Kepada siapa Anda dapat menyalurkan kasih Allah hari ini?


Ketika Anda melihat seseorang yang membutuhkan pertolongan,

Kasih memuntut perbuatan yang penuh kasih;
Jangan hanya berkata Anda sungguh mengasihinya,
Buktikan dengan perbuatan yang Anda lakukan.



Belas kasih mewujudkan kasih menjadi perbuatan.
»»  READMORE...

4 Cara Jitu untuk Kehilangan Jodoh yang dari Tuhan


.
Kalau kamu melakukan dengan setia dan terus menerus salah satu saja dari cara-cara di bawah ini, maka sudah dapat dipastikan kamu tidak akan pernah dapat menemukan “Jodoh yang dari Tuhan”.
* Cara ke 01 : “Teruskan segala upaya untuk mencari jodoh !”
Modal utama untuk dapat lakukan hal ini secara konsisten, adalah adanya hati yang tidak sabar dan berpanduan hanya kepada dorongan hati.
Mengapa cara ini bisa membuat kita kehilangan Jodoh kita yang sebenarnya ?
Coba lihat bagaimana Allah mempertemukan Adam dengan jodohnya, Hawa? Apakah Adam begitu berusaha mencari usaha untuk mendapatkannya sampai tidak bisa tidur? Tidak, bukan.. Bahkan dikatakan justru saat Adam tidur nyenyak maka Allah siapkan jodohnya. Tidur artinya berserah dan percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik, dalam waktu yang terbaik dan dengan cara yang terbaik.
Ada pepatah mengatakan demikian “Saat kita angkat tangan maka Allah turun tangan, tapi saat kita turun tangan maka Allah angkat tangan”
Berdoa untuk jodoh yang dari Tuhan itu perlu, tapi kalau kembali melakukan usaha sendiri seolah-olah Tuhan tidak sanggup itu sama artinya dengan “tidak yakin”. Padahal firman Tuhan dalam Yakobus 5:16b berbunyi “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”
* Cara ke 02 : “Utamakan penampilan seseorang lebih daripada apapun !”
Komunitas para pencari jodoh atau petualang-petualang cinta adalah faktor yang paling menentukan seseorang sehingga memiliki cara pandang seperti di atas. Memang pengaruh media hiburan dan film punya andil tapi tidak sebesar pengaruh dari pergaulan komunitas ini.
Mengapa cara ini bisa membuat kita kehilangan Jodoh kita yang sebenarnya ?
Yohanes 7:24 “Jangan menghakimi menurut apa yang tampak, tetapi hakimilah yang adil.”
Maksudnya bahwa yang tampil di permukaan tidak memberikan gambaran mengenai keadaan seluruhnya. Yang ditampilkan hanya permukaan laut yang tenang padahal di bawahnya terdapat arus dalam yang kuat.
Bertemu dengan jodoh dan akhirnya menikah bukanlah sekedar hal jasmani semata, tapi lebih penting lagi, karena masalah pernikahan dan jodoh adalah “hal yang rohani”.
Dalam Maleakhi 2:15 menyatakan bahwa Allahlah yang menghendaki jika seseorang bertemu dengan jodohnya yang diakhiri dalam sebuah pernikahan. Ini menunjukkan bahwa masalah rohani dari seseorang lebih penting daripada masalah jasmani untuk memastikan ia adalah jodoh dari Tuhan atau bukan.
Pertama yang perlu diingat adalah tidak mungkin Allah akan pertemukan kita dengan jodoh dari seseorang yang belum menerima Yesus sebagai Tuhan di hidupnya, karena bukankah firman Tuhan menegaskan bahwa Terang dan gelap tidak mungkin bersatu (2 Kor 6:14). Jadi sekalipun secara penampilan “masuk dalam kriteria” tapi belum Lahir Baru, maka sudah dapat dipastikan saat ini ia bukanlah Jodoh dari Tuhan.
Tapi bukankah, dengan saya berpacaran dengan dia, saya bisa membawa dirinya menerima Yesus sebagai Tuhan? Jangan tertipu oleh iblis. Tuhan akan mempertemukan kita dengan jodoh kita untuk membangun hubungan sahabat yang lebih dalam hanya dengan orang yang telah Lahir Baru.
Jika seandainya benar, Tuhan ternyata menyediakan jodoh dari orang yang belum percaya; biarkan saja ia tetap berada dalam prosesnya Tuhan untuk mengenal keselamatan dan mengalami proses Kelahiran Baru dengan caranya Allah dan bukan dengan caranya kita. Kesampingkan dahulu kerinduan untuk ber-jodoh dengan dia, tunggu sampai Tuhan yang memberitahu kapan waktunya untuk dipertemukan sebagai jodoh.

 * Cara ke 03 : “Imani bahwa Tuhan menetapkan orang yang menimbulkan simpatik adalah Jodoh yang dari Tuhan”
Kepercayaan bahwa Tuhan akan bekerja seperti apa yang kita kehendaki merupakan modal utama untuk menumbuhkan sikap hati seperti ini.
Mengapa cara ini bisa membuat kita kehilangan Jodoh kita yang sebenarnya ?
Karena “iman” yang digunakan dalam hal ini bukanlah iman yang sebenarnya. Ibrani 11:1 menyatakan bahwa “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”
“Bukankah itu artinya saya boleh beriman dengan sesuatu yang saya harapkan?”
Oh…tunggu sebentar ada ayat kedua yang akan memperjelas maksud Ibrani 11 ini, yaitu Yakobus 4:3 “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu”
Jadi iman sejati tidak timbul dari pengharapan karena nafsu keinginan (“ngebet” dapat jodoh) tapi dari firman Tuhan yang adalah KehendakNYA. Justru kalau kita berusaha “Imani “ seseorang menjadi jodoh kita, menurut Yakobus 4:3, kita tidak akan menerima apa-apa.
* Cara ke 04 : “Jangan biarkan si doi lepas dari cengkeraman”
Pepatah “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino” (bahasa Jawa artinya “Cinta tumbuh karena terbiasa”) menjadi prinsip yang mendasari “semangat ‘45” ini dalam mendapatkan jodoh yang dari Tuhan.
Mengapa cara ini bisa membuat kita kehilangan Jodoh kita yang sebenarnya?
Sekalipun dikemas dengan segala istilah dan bumbu-bumbu rohani, didoakan, diimani, dipuasakan tetap saja pengertiannya adalah memaksakan Allah pada kehendak kita.
Pemuda atau pemudi yang “berjuang” dalam PeDeKaTe dengan filosofi ini memang seringkali terlihat berhasil “jadian” bahkan masuk dalam pernikahan. Tapi tidak sedikit bahkan terhitung banyak yang mengalami keraguan saat menjalani pernikahan. “Apakah betul suami/isteri saya adalah jodoh yang dari Tuhan?“
Mengapa demikian? Karena usaha yang gencar untuk mencengkeram sang pujaan hati sampai ia bertekuk lutut cenderung akan membuahkan kesepakatan untuk menikah karena faktor sungkan, tidak enak hati, kasihan dan unsur coba-coba. Padahal, siapakah yang sebenarnya lebih mengenal diri kita dan seluruh kebutuhannya? Diri kita sendiri atau Yang Menciptakan diri kita ?
Seorang penyanyi rohani ’80 an Sheila Walsh menyanyikan sebuah lagu berjudul “Lord You Know me Better Than I Know Myself “ mungkin bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Trus…kalau cara jitu supaya tidak kehilangan Jodoh yang dari Tuhan, bagaimana?
Firman Tuhan dalam Yesaya 40:31 memberikan kuncinya, sebagai berikut: “tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”

“Menanti-nantikan TUHAN” adalah kuncinya. Bagaimana praktisnya ? Nantikan dalam posting yang berikutnya :)
(hy bersumber dari buku “Pria Idaman” Jo Lynne Pool, Metanoia 1998)
»»  READMORE...

Pembentukan Hati


.
Suatu kali, Yesus berkeliling di seluruh Galilea untuk mengajar di dalam rumah ibadah dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara mereka. Lalu, tersiarlah berita tentang Yesus di seluruh Siria, Dekapolis, Yerusalem, Yudea dan seberang Yordan, sehingga orang-orang berbondong-bondong mengikuti Dia. Melihat orang banyak itu, Yesus naik ke atas bukit dan mengajar murid-muridNya demikian, “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi,”(Matius 5:5). Mengapa orang-orang yang memiliki bumi adalah mereka yang mempunyai ciri khas lemah lembut? Karena kelemahlembutan hati adalah kesediaan seseorang untuk dibentuk oleh Tuhan.

Apa maksud “dibentuk oleh Tuhan”?

1. Manusia memiliki hati yang licik
Hati manusia sangat licik, sehingga Allah perlu membentuknya menjadi lemah lembut. Kata Yeremia, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya."(Yeremia 17:9-10). Apakah hati licik ketika sedang berbisnis? Apakah kita memiliki hati yang licik terhadap isteri, anak dan keluarga? Jika kita ingin memiliki hati yang lemah lembut, maka kita perlu dibentuk oleh Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari.

2. Manusia memiliki hati yang keras kepala
Sebagai orang percaya kita ingin memiliki bumi, namun tanpa menyadari bahwa hati keras kepala. Tuhan berfirman melalui Yesaya, “Oleh karena Aku tahu, bahwa engkau tegar tengkuk, keras kepala dan berkepala batu,”(Yesaya 48:4). Karena itulah Allah membentuk kita melalui proses pembentukan setiap hari. Tuhan seringkali memakai isteri, suami, anak-anak atau orang-orang yang terdekat dengan kita untuk melembutkan hati kita.

Mari, kita sebagai orang-orang yang hidup di dalam Kerajaan Allah melihat ke dalam hati kita dan membiarkan Tuhan dengan kuasaNya membentuk hati kita sesuai kehendakNya. Jangan pernah menyerah kepada pembentukan yang kita sedang alami, karena kita akan menikmati hal-hal yang indah bersama Tuhan setelah melewati proses Tuhan dengan baik.

GBU 
»»  READMORE...

The Power of Integrity


.
Seorang pengusaha yang sibuk ingin beristirahat sejenak sepulang dari kantor. Karena tidak ingin diganggu, ia berpesan pada anaknya, “kalau ada yang cari papa, bilang papa tidak ada, ya. Tak lama kemudian telepon berdering, si anak tergopoh-gopoh menjawab telepon tersebut, lalu berkata,”Halo om, papa bilang papa tidak ada…”

Kisah di atas mungkin sekedar ilustrasi yang sering terjadi diantara kita. Namun sadarkah kita, semakin banyak penyesuaian cara, sikap dan perkataan, lazim digunakan sebagai jalan pintas mencapai tujuan. Sedikit rekayasa dianggap hal yang sudah biasa, bahkan menjadi kiat mujarab untuk meraih sukses. Tapi benarkah demikian?
Ada sebuah kejadian yang sangat membekas di hati saya. Suatu ketika saya membeli koran dari seorang anak penjual Koran yang biasa berseliweran di tepi jalan dekat lampu merah. Saat itu ia tidak punya uang kembalian, sedangkan kendaraan tidak bisa berhenti. Jadi sambil berlari ia berteriak, “ besok ya, pak…!”

Keesokan harinya saya berangkat ke kantor seperti biasa dan sudah tidak ingat lagi tentang koran itu. Tapi sungguh luar biasa, ternyata bocah itu sudah menunggu di tepi jalan dekat lampu merah sambil melambai-lambaikan tangannya. Tergesa-gesa ia menghampiri mobil saya dan berkata, “Ini uang kembalian bapak yang kemarin”. Hati saya terharu sekaligus bangga, kita patut belajar dari integritas seorang anak

MEMAHAMI MAKNA INTEGRITAS
Integritas berkenaan dengan jati diri. Integritas berbicara mengenai kesejatian bukan kemunafikan, kemurnian bukan pura-pura. Yesus dikenal sebagai pribadi yang lemah lembut, namun Ia tidak berkompromi dengan sikap orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka diumpamakan seperti kubur yang dilabur putih. Dari luar tampak putih bersih, namun di dalamnya penuh tulang belulang. Betapa keras pernyataan itu.
Integritas menyatakan apa adanya diri kita secara tulus. Suatu keberanian dan keteguhan untuk menyatakan diri dengan jujur tanpa manipulasi demi keuntungan atau motivasi tertentu. Orang yang berintegritas adalah orang yang memiliki keutuhan dan keselarasan dalam pikiran, perasaan, sikap perbuatan dan perkataan. Semua aspek dalam dirinya internal dan eksternal tetap sinkron dan harmonis. Tidak ada rekayasa atau kepalsuan.

INTEGRITAS DALAM PENGUASAAN DIRI
Memahami integritas seperti sebuah koin dengan dua sisi. Satu sisi adalah gambar raja, sedangkan sisi lain adalah nilai nominalnya. Gambar koin menjelaskan “who you are”, siapa anda sesungguhnya. Dan sisi nominalnya adalah “what you are”, atau apakah nilai atau kualitas anda.
Ketulusan tanpa hikmat adalah kenaifan. Kejujuran tanpa kebijakan adalah kebodohan. Karena dunia adalah padang belantara, dan kita diutus seperti domba di tengah serigala. Maka Yesus berkata, hendaklah kamu cerdik seperti ular, tapi tulus seperti merpati. Ketulusan harus disertai kecerdikan. Cerdik berarti mampu menguasai diri untuk bertindak benar pada saat, waktu dan situasi yang tepat.

MASALAH INTEGRITAS DIAWALI DARI KRISIS IDENTITAS
Persoalan integritas diawali dari kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa. Krisis identitas terjadi dengan rusaknya citra Allah dalam diri Adam dan Hawa. Ketelanjangan membuat mereka merasa sangat malu dan segera menutup diri dengan daun-daun ara. Pikiran mereka mulai saling menuduh. Pembenaran diri dilakukan dengan pembelaan komunikasi dan kata-kata yang diucapkan. Krisis identitas cenderung menyembunyikan hal-hal yang dirasakan kurang sempurna. Sejak kejatuhan di dalam dosa, maka kita semua dilahirkan dalam tabiat dosa. Celakanya, kita tahu apa yang baik, tapi justru melakukan apa yang keliru. Hati nurani sadar tentang kebenaran, tapi perbuatan kita melakukan hal yang sebaliknya.
Akibat krisis identitas kita menjadi kehilangan citra diri. Kita selalu kuatir dengan diri sendiri, karena kita mulai saling menilai menurut ukuran yang serba tak sempurna. Rasa aman dibangun dari respon dan asumsi lingkungan di mana kita berada.
Ada orang yang merasa aman jika dia memiliki harta dan popularitas. Ada yang bangga dengan kepandaiannya, kesuksesan, wajah yang rupawan atau sekedar baju yang bagus, mobil yang keren dan masih banyak lagi. Kita seringkali tidak menyadari, namun semua itu bagaikan daun yang bisa layu.
Jika terbiasa memakai mobil, rasanya sulit kalau harus naik motor. Merasa kurang nyaman adalah hal yang wajar, tapi jangan sampai mengingkari kenyataan, itu gengsi yang membawa derita.

MENGAPA INTEGRITAS SEMAKIN LUNTUR?
Suatu ketika ada seorang ibu yang kena tipu. Ia membeli perhiasan emas, tapi ternyata hanya sepuhan belaka. Waktu dibeli perhiasan itu bagus sekali dan berkilau cemerlang. Tapi tidak lama dipakai, perhiasan itu menjadi pudar dan kelihatanlah bahan dasarnya hanya tembaga.
Kesejatian takkan luntur. Integritas yang luntur tidak hanya sekedar membuktikan kepalsuan. Tapi itu juga berarti bahwa ia tidak dibangun di atas fondasi yang benar. Ujian dan proses akan membuktikan kredibilitas sebuah integritas.

Ada empat fondasi yang keliru dalam membangun integritas:
* TAKUT DITOLAK
Perasaan untuk mempertahankan penampilan atau standar tertentu agar selalu diterima dan dihargai orang lain. Sikap ini membuat orang mudah tersinggung dan sulit menerima evaluasi atau kritikan. Untuk menghindari penolakan, kita akhirnya berusaha untuk selalu menyenangkan orang lain.
* TAKUT DIHAKIMI
Sikap perferksionis membuat kita sering menghakimi orang lain dan diri sendiri. Itu sebabnya kita juga menjadi takut dinilai dan dihakimi. Ketakutan ini akhirnya membuat kita jatuh ke dalam jurang kemunafikan.
* TAKUT GAGAL
Ketakutan ditolak dan dihakimi orang lain akhirnya membuahkan rasa takut gagal. Kegagalan dianggap akhir dari segalanya. Kegagalan meruntuhkan semangat dan tekad. Rasa takut gagal membuat kita terbelenggu dan stagnasi di zona nyaman.
* MERASA MALU
Rasa malu sebenarnya berkaitan dengan rambu-rambu etika. Menjadi positif jika digunakan secara tepat. Tapi perasaan malu yang berlebihan dan tidak berdasar merupakan sebuah jerat. Ini lebih tepat disebut gengsi. Sudah minder sombong pula.

PENGHALANG INTEGRITAS BAGAIKAN MUSUH DALAM SELIMUT
Dulu pernah ada sebuah lyric lagu “Buah semangka berdaun sirih”. Saya tidak tahu persis apakah itu maksudnya sinonim dengan pepatah serigala berbulu domba. Tapi itu semua sepertinya mengandung konotasi kepalsuan.
Kepalsuan adalah serupa tapi tak sama dengan yang asli. Nampaknya seperti sama, tapi sebenarnya tidak. Lalang dan gandum dibiarkan tumbuh bersama karena sulit untuk membedakannya. Tetapi ketika panen tiba, tanaman gandum akan mengeluarkan bulir-bulir yang siap dituai. Sedangkan lalang akan diikat dan dibakar habis.
Integritas yang sejati akan menghasilkan buah dan manfaat, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Tapi kepalsuan hanya mendatangkan kerugian pada akhirnya. Waktu adalah penguji yang terbaik. Tetapi seringkali waktu tidak menyisakan kesempatan kedua bagi kita.
Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar

DR. Jakoep Ezra - Character Specialist
»»  READMORE...

Janet Liang Needs You


.
this post is written in Bahasa Indonesia. You can read the English one in here. thanks for visiting my blog. :)


Janet Liang (25 tahun) memposting video ini saat ia mencari sumsum tulang donor yang cocok dalam pertempurannya dengan leukimia limfoblastik akut (ALL) [klik untuk mengetahui definisinya dalam Wikipedia]. Dia tidak punya banyak sisa waktu. Kamu bisa menjadi jodohnya (match). Dia hanya bisa sampai April 2012 untuk menemukan kecocokan itu. Sulit untuk menonton videonya, tapi mudah-mudahan itu akan mendorong orang untuk menjadi donor sumsum tulang.


Teman-temannya telah membentuk sebuah gerakan, Helping Janet, dengan bantuan jaringan dukungan yang bagus untuk meningkatkan jumlah etnis minoritas di National Marrow Donor Registry (Registry Donor Sumsum Nasional) untuk menyelamatkan pertandingan jiwa lebih dari 10.000 pasien. Janet mendedikasikan gerakan ini untuk mengenang Michelle Maykin dan gerakan Project Michelle yang didirikan beberapa tahun yang lalu. Pelajari bagaimana kamu bisa membantunya di sini. 





Janet didiagnosis menderita leukimia limfoblastik akut (LLA) pada bulan Agustus 2009 selama belajar di UCLA. Dia telah melalui 8 putaran kemoterapi dosis tinggi yang berlangsung selama setahun - rawat inap berlangsung selama 30 hari, sementara yang lain berlangsung beberapa minggu. Pada bulan Juni 2010, dia meninggalkan rumah sakit dan mulai terapi pemeliharaan yang membuatnya bebas kanker selama satu setengah tahun.


Syukur saat ia sehat, Janet menyelesaikan studinya dan akhirnya lulus. Dia bekerja di sebuah sekolah lokal untuk membantu staf pengajar siswa SMA. Meskipun ia belajar untuk GRES dan diterima di sekolah pascasarjana, ia menolak tawaran itu karena dia tidak pasti tentang pilihan karirnya. Sebaliknya, ia menantikan perjalanan impian yang lama ditunggu-tunggu untuk ke Inggris dan Perancis bersama ibunya. Didorong oleh keinginan melakukan hal-hal yang belum pernah ia coba sebelumnya tanpa ragu atau penyesalan, dia akhirnya melintasi perjalanan ke Paris. Janet juga mendapat kesempatan tampil di People Magazine atas nama organisasi nirlaba, First Descents, untuk mempromosikan harapan dan penyembuhan pasien kanker dewasa muda lain melalui whitewater kayaking dan petualangan outdoor lainnya.

Sayangnya, baru-baru ini leukimianya kambuh dan rencana untuk masa depan ditunda sekali lagi.


Dia butuh bantuanmu! Dia sekarang diburu waktu untuk menemukan sumsum tulang yang cocok untuk transplantasi sumsum tulang yang mungkin menjadi kesempatan terakhir untuk menyelamatkan nyawanya sebelum dia meninggal akibat penyakit yang mengancam jiwa ini.
»»  READMORE...

Hands


.

»»  READMORE...

Empat Istri


.

Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 isteri. Dia mencintai isteri ke-4 dan menganugerahinya harta dan kesenangan, sebab ia yang tercantik di antara semua isterinya.

Pria ini juga mencintai isterinya yang ke-3. ia sangat bangga dengan sang isteri dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita cantik ini kepada semua temannya. Namun ia juga selalu kuatir kalau isterinya ini lari dengan pria lain. Begitu juga dengan isteri ke-2. Sang pedagang sangat menyukainya karena ia isteri yang sabar dan penuh pengertian.

Kapan pun pedagang mendapat masalah, ia selalu minta pertimbangan isteri ke-2-nya ini, yang selalu menolong dan mendampingi sang suami melewati masa-masa sulit.

Sama halnya dengan isteri pertama. Ia adalah pasangan yang sangat setia dan selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarganya. Wanita ini yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan bisnis sang suami.

Akan tetapi, sang pedagang kurang mencintainya meski isteri pertama ini begitu sayang kepadanya. Suatu hari si pedagang sakit dan menyadari bahwa ia akan segera meninggal. Ia meresapi semua kehidupan indahnya dan berkata dalam hati, "Saat ini aku punya
4 isteri. Namun saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan."

ISTERI KE-4: NO WAY
Lalu pedagang itu memanggil semua isterinya dan bertanya pada isteri ke-4-nya. "Engkaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan indah. Nah, sekarang aku akan mati. Maukah kamu mendampingi dan menemaniku?" Ia terdiam.... tentu saja tidak! Jawab isteri ke-4 dan pergi begitu saja tanpa berkata apa2 lagi. Jawaban ini sangat menyakitkan hati. Seakan2 ada pisau terhunus dan mengiris- iris hatinya.

ISTERI KE-3: MENIKAH LAGI
Pedagang itu sedih lalu bertanya pada isteri ke-3. "Aku pun mencintaimu sepenuh hati dan saat ini hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku dan menemani akhir hayatku?" Isterinya menjawab, "hidup begitu indah di sini, Aku akan menikah lagi jika kau mati". Bagai disambar petir di siang bolong, sang pedagang sangat terpukul dengan jawaban tsb. Badannya terasa demam.

ISTERI KE-2: SAMPAI LIANG KUBUR
Kemudian ia memanggil isteri ke-2. "Aku selalu berpaling kepadamu setiap kali aku mendapat masalah dan kau selalu membantuku sepenuh hati. Kini aku butuh sekali bantuanmu. Kalau aku mati, maukah engkau mendampingiku?" Jawab sang isteri, "Maafkan aku kali ini aku tak bisa menolongmu. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur. Nantiakan kubuatkan makam yang indah untukmu."

ISTERI KE-1: SETIA BERSAMA SUAMI
Pedagang ini merasa putus asa. Dalam kondisi kecewa itu, tiba-tiba terdengar suara, "Aku akan tinggal bersamamu dan menemanimu kemana pun kau pergi. Aku tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu. Pria itu lalu menoleh ke samping, dan mendapati isteri pertamanya di sana. Ia tampak begitu kurus. Badannya seperti orang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, "Kalau saja aku bisa merawatmu lebih baik saat aku mampu, tak akan kubiarkan engkau kurus seperti ini, isteriku."


HIDUP KITA DIWARNAI 4 ISTERI
Sesungguhnya, kita punya 4 isteri dalam hidup ini. Isteri ke-4 adalah TUBUH kita. Seberapa banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah. Semua ini akan hilang dalam suatu batas waktu dan ruang. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap kepada-Nya.

ISTERI ke-3 STATUS SOSIAL DAN KEKAYAAN.
Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah dan
melupakan kita yang pernah memilikinya. Sebesar apapun kedudukan kita dalam masyarakat dan sebanyak apapun harta kita, semua itu akan berpindah tangan dalam waktu sekejap ketika kita tiada.

ISTERI ke-2, yakni KERABAT DAN TEMAN.
Seberapa pun dekat hubungankita dengan mereka, kita tak akan bisa terus bersama mereka. Hanya sampai liang kuburlah mereka menemani kita. Dan sesungguhnya

ISTERI ke-1, yakni JIWA DAN PERBUATAN KITA
isteri pertama kita adalah JIWA DAN PERBUATAN KITA. Sebenarnya hanya jiwa dan perbuatan kita sajalah yang mampu untuk terus setia mendampingi kemana pun kita melangkah. Hanya perbuatan baiklah yang mampu menolong kita baik di bumi maupun setelah kematian.

Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa kita dengan bijak serta jangan pernah malu untuk berbuat kebaikan, memberikan pertolongan kepada sesama yang membutuhkan. Betapa pun kecilnya bantuan kita, pemberian kita menjadi sangat berarti bagi mereka yang memerlukannya. 

have a blessed day! Gbu :)
»»  READMORE...